Sebuah Kenangan untuk Diingat

(sumber: dokumentasi pribadi)

kita pernah singgah di sana

meninggalkan genang kenangan serupa laut, tak kunjung surut

hanya larut bersama garam, dan setetes harapan serupa hujan

jatuh di tengah-tengah keterdamparan kapal nelayan pada laut tak bertuan

***

Pantai Pasir Perawan bersama kawan

6-7 Mei 2017

Di Ujung Waktu

​Aku harap, gerimis teriak jadi hujan lebat. Dengan begitu, tak perlu ada aku, kamu, dan pertemuan malam itu. Biar malam sisakan tanya, daripada fakta yang tak pernah bisa kuterima. Tetapi hidup tidak didesain seperti itu, katamu. Ketidakpastian memang selalu datang pada papan permainan, tetapi tidak pada finalnya.

“Jadi, bagaimana?”

Tanyamu tidak menukik, tidak curam dan berbatu. Tanyamu selembut kepakan sayap burung gereja, terbang rendah di udara dan mendarat sempurna di landasan telinga.

“Apa?” jawabku, berusaha membuang waktu sebanyak yang kumampu.

Tapi tidak denganmu. Kamu tampak gusar, takut kalau langit menjatuhkan tetes-tetes air tawar lebih banyak lagi. Jika sudah begitu, kamu tau. Aku akan menunggangi langit dan lari terbirit-birit.

“Jangan coba membuang sesuatu yang tidak kamu punya.”

Ada getir terkandung pada setiap katamu seperti resep salah takar. Pahit, agak pedas. Atau karena itu kah kamu dengan mudah memuntahkannya padaku? 

Malam semakin muram, begitu pun kamu. Kalian jengah melihatku yang tak kunjung berkata-kata. Tetapi mauku memang begitu; membuang-buang waktu yang katamu tak pernah kupunya. Maka, biar kutunjukkan padamu bahwa aku bisa menahan jawabnya sampai malam pamit dan pagi tiba.

Aku ingin menangkap malam, hujan, dan kamu, kemudian memasukannya ke kapsul waktu. Kalian akan abadi dalam tanah yang tak pernah kugali. Waktu akan lewat dengan cepat, tapi kalian tak akan pergi kemana-mana. Dengan begitu, pagi tak akan mampu membangunkanmu dan memisahkan kita berdua ….

“Aku akan berangkat sebentar lagi,” katamu, pasrah. Memilih monolog dramatik pada akhirnya. “Aku akan berangkat dengan atau tanpa jawabmu. Bukan kah kamu pikir, waktu bisa mewakilimu?”

Waktu.

Aku membeku, tapi kamu tersenyum. Miris. Sementara hatiku teriris, tak kuasa menahan tangis yang tak kamu gubris. 

“Selamat tinggal,” ucapmu.

Lalu, kamu menghilang di balik hujan bulan November, sementara aku terjebak dalam kapsul waktuku sendiri, tidak bergeser kemana-mana. Benar katamu. Waktu akan menjawab empat tahun lagi, dengan bahasa pembuktian yang paling jujur. Bukan suara, atau aksara. Waktu tak butuh itu. Waktu hanya ingin aku tahu saat kamu pulang dengan gelar S1, tapi bukan untukku.

Penghujung Jalan

jari-jarimu mengalir bagaikan hujan
menyusur liuk selokan dan
sedu sedan persimpangan jalan
sebelum kau sampai pada sudut
yang membuat kita terpaut
“di sini?”

aku menepi
membiarkanmu meraba sepi
sketsa yang dengan sempurna kututupi
cat minyak dan harum aromaterapi
“ya,” jawabku kali ini

hanya ada kita berdua
dan hangat di sekeliling kita
saat waktu berhenti melaju
dan bayang-bayang kita bertemu
menjadi satu

“aku mencintaimu.”

Gadis di Sudut Ruangan 2: Mimpi-Mimpi Buruk

(source: http://www.mcad-mfa.com)

Khayalan di luar batas dan mimpi-mimpi yang fantastis adalah paket dari kelahiranku. Mereka hidup dalam setiap keping darah yang mengalir dalam tubuhku, tumbuh, berkembang biak dan bermutasi menjadi lebih kuat sampai aku tak mampu lagi mengatasinya. Seringkali aku terjebak dalam mimpi buruk yang panjang, atau mengalami lumpuh tidur lima kali dalam satu malam—diikuti oleh monster-monster mengerikan dan langkah kaki yang mendekati tubuh lumpuhku—atau mimpi dalam keadaan terjaga yang mebuatku hampir jatuh ketika mengendarai sepeda motor, serta mimpi yang aku tak tahu apakah itu nyata atau tidak, yang pasti, mimpi tersebut membuatku tak bisa tidur meski aku begitu menginginkannya—selamanya.

Pernah sekali, aku melihat ibuku menyebrangi lintasan kereta di depan rumah tepat ketika klakson commuter line menghujam telingaku. Suaranya ribuan kali lipat lebih kuat hari itu, sehingga mampu membuat jantungku berhenti berdetak selama dua detik. Kemudian, timbulah garis panjang berwarna merah yang menghubungkan lintasan kereta dengan rumahku. Seperti magnet, garis itu mampu menarik minat semua orang untuk berkumpul dan berseru. Ibuku, dengan setengah kesadarannya, memberanikan diri untuk melihat ke arah kaki kirinya yang hampir putus sebelum akhirnya tak sadarkan diri bersamaan dengan deru mobil Jeep yang membawanya menghilang dari pandangan.

Poft!

Umurku sebelas saat aku mulai memimpikan kejadian-kejadian buruk. Aku melihat lantai rumahku penuh dengan cairan kental berwarna merah, yang sumbernya berasal dari surga; di bawah telapak kaki ibu. Melihat surgaku dilindas kereta, tentu saja aku ingin menangis sejadi-jadinya. Tetapi aku hanya diam mematung, menyaksikan seluruh kejadian dengan mulut terkatup rapat dan bibir yang gemetar. Mungkin, aku lupa cara menangis. Karena aku telah meledak berkeping-keping di dalam.

Jika kutahu merah dapat menarik perhatian semua orang, maka, biarlah warna tersebut menjadi warna kesukaanku mulai hari itu. Merah. Seindah bunga mawar, semenakutkan darah. Aku tidak tahu mengapa, tetapi, aku benar-benar mencari pakaian berwarna merah setelahnya. Ketika semua orang meninggalkan rumah kami, dan ayah serta ibu meninggalkanku bersama adik kecilku, aku membasuh diri dengan air dingin dari pancuran. Air yang mengalir ke lidahku terasa asin. Segalanya memang terlihat salah sejak awal.

“Ibu … Ibu ….”

Adikku tak bisa berhenti menangis, atau aku yang memang tak pernah mampu membuat kesedihannya berakhir. Nyatanya, aku tetap bergeming—mendengarkan tangisan itu layaknya menikmati simfoni Wolfgang Amadeus Mozart. Kalau saja aku tidak sedang menyenandungkan laguku sendiri dalam diam, mungkin, aku mampu mendengarkan tangisannya sampai ia tidak bisa menangis lagi.

Jadi, aku beringsut mencari ponsel untuk menghubungi seorang kerabat yang mampu membungkam nyanyian adikku. Meskipun pada akhirnya, aku tidak pernah menemukan ponsel yang kucari. Aku melupkannya. Aku melupakan segalanya ketika yang kutemui adalah ponsel lain; dengan keypad Arabic yang dibeli saat dinas ke Libya, dan pinggiran besi berkilau yang menandakan bahwa pemiliknya adalah seorang yang apik, berhati-hati, dan pandai menyimpan rahasia … tetapi tidak dariku.

Aku mengetahu sandinya. Pernah kulihat ia membuka ponselnya satu meter di sampingku. Tentu saja, saat itu, aku belum menderita kerusakan refraktif mata.

Ada beberapa hal yang tidak bisa kau jelaskan, seberapa keras kau mencoba. Mimpi adalah salah satunya. Meskipun kau berusaha keras mengingatnya, tidak pernah ada gambaran konkret dan kronologis yang muncul dalam kepalamu. Lalu, pada saat kau tidak menginginkannya, seringkali mimpi itu datang. Mulai dari kejadian-kejadian sekilas, sampai membentuk cerita yang hampir utuh. Walau begitu, kau tetap mengalami kesulitan dalam menceritakannya. Begitu juga aku.

Aku pernah bermimpi, mimpi di dalam mimpi, mimpi bahwa aku tengah bermimpi. Tepat ketika ponsel dalam genggamanku berhasil terbuka, aku menemukan mimpi-mimpi buruk yang lain.

Ayah, Brian sedang sakit. Bisakah kau pulang ke Prabumulih?
Ayah, Honest ingin melihat Monas.
Ayah, aku merindukanmu.

Aku tertawa, hambar.

Apakah aku terjaga?

“Ya,” kata suara itu.

Berapa usiaku sekarang?

“Sebelas.”

Apakah ini mimpi di dalam mimpi?

“Kau bermimpi bahwa kau tengah bermimpi.”

Lantas, siapa kau?

“Aku adalah setengah dari dirimu yang datang untuk membuatmu tetap waras.”

Aku mengerjapkan mata. Sekarang, bisa kulihat sosok itu dengan jelas. Gadis berambut jagung yang berdiri di sudut ruang kamarku, dengan bibir pecah-pecah dan kulit sawo matang yang tidak menarik.

Sekali lagi, aku bertanya padanya.

Yang mana yang nyata: Aku, atau Kau?

Ia terseyum.

“Selain kita, semua yang terjadi hari ini adalah nyata.”

2017

Ibu, Sadarlah

Ibu, sadarlah. Waktu terus berjalan.

Kita sedang tidak hidup di masa lalu, di mana ayah akan pulang pukul sembilan, kemudian seorang anak perempuan berlari menuju pintu; hendak membukakan. Kita sedang tidak hidup di masa lalu, di mana ia akan mencium keningmu setelah engkau selesai memasangkan dasi dan membuatkan bekal makan siang.

Ibu, sadarlah.

Waktu adalah seorang pejalan jauh yang bisa meninggalkanmu di belakang. Terpenjara dalam kegelapan, dibelenggu kebimbangan. Tetapi aku, Ibu, aku akan selalu berada di dekatmu.

Biarkan waktu pergi, tetapi tidak denganku. Aku akan selalu berada di sisimu, menggandeng tanganmu agar kita berjalan perlahan; mengejar waktu yang semakin di depan.

Ibu, aku tidak pernah takut ditinggal waktu. Jadi, istirahat saja sejenak jika itu maumu. Anakmu akan selalu ada di sana, di bawah naungan lagu tidur yang seringkali kau nyanyikan. Ia akan menunggumu, ia akan selalu merindukanmu seperti gurun merindukan hujan.

Ibu, sadarlah, dan genggam tanganku.

Waktu memang seorang pejalan, tetapi kita adalah pengemudi. Bersamamu, Ibu, kita akan lalui waktu. Walau perlahan, walau seringkali kau menengok ke belakang, kita akan mengejar waktu; melepaskan diri dari cengkraman masa lalu.

Kemudian, kita akan tiba di sana.

Di tempat di mana ayah hanyalah sesuatu untuk dikenang. Di tempat di mana kita akan membangun sarang bersama adik-adik dan mimpi-mimpi yang baru.

Jadi, Ibu, sadarlah.

Karena waktu telah berada tujuh tahun di depan kita.

Jangan!

Jangan dulu pergi—
jangan!

Sebab aku masih belum bisa mengerti
perihal kedatanganmu
Aku masih gagap meraba
makna kehadiranmu

Apakah engkau adalah karma
atau sebuah pengampunan—
aku bertanya pada malam

Tetapi ia menjawab diam
dan aku membalas pasrah.

Kataku Pada

Kataku pada kuncup-kuncup bunga,
aku mencintaimu.
Mereka mekar
harumnya mengisi seluruh ruangan

Kataku pada lengkung langit siang,
aku mencintaimu.
Mereka meluruh menjadi hujan
membasahi tanah kering kerontang

Kataku pada debur ombak pantai selatan,
aku mencintaimu.
Mereka meradang
sampai mampu memecah karang

Kataku pada cermin di sudut ruangan,
aku mencintaimu.
Mereka pecah
menjadi keping-keping kecil yang melukaiku.

Kucing Kecil di Suatu Pagi

Pagi ini, aku melihat kucingku. Terbaring malas di atas karpet bulu yang hangat, sementara hujan angin terus mengetuk jendela rumah kami.

Aku mengulurkan tangan, membelai kepalanya lembut. Ia bergerak sedikit—kepalanya terangkat, matanya terpejam—tetapi aku bisa menangkap kenikmatan yang ia rasakan. Hal itu membuatku gemas, sehingga kuputuskan untuk berhenti memanjakannya.

Kubangunkan ia dengan mengangkat tubuhnya ke udara seperti seorang ibu yang membuat anaknya menjadi pesawat terbang.

Berat.
Kucingku terasa berat.

Padahal, aku yakin bisa melemparnya ke angkasa dengan satu tangan ketika terakhir kali aku mengangkatnya. Tetapi, apa yang kuinginkan sekarang adalah segera menurunkannya ke lantai yang dingin sehingga ia bisa sadar sendiri dan bermain bersamaku.

Kenyataannya, meskipun aku telah mengembalikannya ke pelukan bumi, ia tetap tidak menanggapai keusilanku. Ketika kuinjak lembut ekornya, ia melepaskan diri dengan hati-hati. Ketika kudorong ia dengan kakiku, ia hanya menatapku sebal, lalu pindah ke sudut lain ruangan. Jadi, aku menyerah.

Kupikirkan baik-baik saran ibu untuk membuang kucing itu. Ibuku memang bukan penyuka kucing, tetapi ia memiliki toleransi yang cukup besar. Kami memiliki kesepakatan untuk membiarkan kucing itu sampai ia besar dan bisa mencari makan sendiri. Tapi, setiap kali ibu mengingatkanku akan perjanjian itu, aku selalu mengelak. Kubuktikan kalau ia masih seekor anak kucing kecil yang rapuh, yang bahkan belum bisa meminum air dari wadah tanpa masuk ke hidungnya.

Tapi sekarang, aku tidak bisa menghindar. Temanku bukan lagi kucing kecil hiperaktif yang selalu mengejar umpan yang kuberi. Dalam waktu secepat rambutku tumbuh dari telinga sampai bahu, ia menjelma jadi bantal bulu yang lebat, yang selalu tergeletak di tempat-tempat hangat untuk mendengkur. Tidak menolak ketika digendong, tidak menghampiri saat dipanggil. Hanya membuka sedikit matanya, kemudian tidur lagi.

Betapa mengerikan melihat perubahan—yang entah bagaimana terlihat sebagai kemunduran—secara terang-terangan. Apakah ini yang juga dirasakan semua ibu di dunia ketika melihat anaknya tumbuh besar dan mendekati kemunduran… maksudku, kematian?

Di luar, hujan telah berhenti. Sebentar lagi, kucing kami pasti akan berdiri, kemudian menggaruk-garuk daun pintu minta dibukakan. Lalu, seorang remaja tanggung akan berlari menyusul ke luar. Dengan kaki telanjang, bermain genangan air bersama seekor kucing hiperaktif di bawah naungan langit yang masih menyisakan tetes-tetes kenangan.

Jakarta, 16 November 2016
Untuk kucing yang selalu kecil di mataku,
Sunkist.